Loading...
PERSIAPKAN DIRI UNTUK KEHIDUPAN AKHIRAT BAGIAN 1

PERSIAPKAN DIRI UNTUK KEHIDUPAN AKHIRAT BAGIAN 1

Tadabbur Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18-24

اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

(18

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ

dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa-apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (akhirat)

وَاتَّقُوا اللّٰهَ قلى إِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.

Dan hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa-apa yang kalian kerjakan.

(19

وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ قلى

Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mereka melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.

أُولٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ.

Mereka itulah orang-orang yang fasik.

(20

لاَ يَسْتَوِيْ أَصْحٰبُ النَّارِ وَأَصْحٰبُ الْجَنَّةِ قلى

Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga

أَصْحٰبُ  الْجَنَّةِ هُمُ الْفَآئِزُوْنَ.

penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang menang

 

Surat ini diturunkan setelah hijrah sehingga surat ini termasuk golongan surat madaniyah dan ia diturunkan sesudah surat Al Bayyinah

Asbabunnuzul ayat ini

Dari Ibnu Jarir berkata: aku sedang duduk bersama Rasulullah SAW. lalu datang suatu kaum yang mengenakan jubah bersih yang mengalungkan pedang (tidak mau berjihad di jalan Allah) dan atas mereka kain penutup badan, dan tidak melakukan sesuatupun selain itu, mayoritas mereka dari suku Mudhor. Ketika Nabi SAW melihat orang yang bersama mereka yang bekerja keras, tidak berpakaian dan kelaparan, maka berubahlah wajah Rasulullah SAW kemudian beliau bangkit dan masuk ke rumah beliau. Kemudian beliau kembali ke Masjid, lalu melaksanakan sholat Dzuhur kemudian beliau naik mimbar, lalu Rasulullah bertahmid kepada Allah dan memuji kepada-Nya. Kemudian beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah menurunkan di dalam kitab-Nya ayat  (يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ sampai الْفَائِزُونَ) (Qs. Al Hasyr 18-20), lalu Rasulullah bersabda:

تَصَدَّقُوْا قَبْلَ اَنْ لاَ تَصَدَّقُوْا, تَصَدَّقُوْا قَبْلَ اَنْ يُحَالَ بَيْنَكُمْ  وَبَيْنَ الصَّدَقَةِ,تَصَدَّقْ اِمْرُؤٌ مِنْ دِيْنَارِهِ, تَصَدَّقْ اِمْرُؤٌ مِنْ دِرْهَمِهِ, تَصَدَقْ اِمْرُؤٌ مِنْ بِرِّهِ, مِنْ شَعِيْرِهِ, مِنْ تَمْرِهِ لاَ يَحْقِرَنَّ شَيْئٌ مِنَ الصَّدَقَةِ وَلَوْ بِشِقِّ التَّمْرَةِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالنَّسَائى وَابْنُ مَاجَه وَابنُ مَرْدَوَيْه)

Lalu Rasulullah bersabda: “Bersedekahlah kalian sebelum kalian tidak dapat bersedekah,  bersedekahlah kalian sebelum ada penghalang di antara kalian dan sedekah itu, hendaklah seseorang bersedekah dengan dinarnya (uang emas), hendaklah seseorang bersedekah dengan dirhamnya (uang perak), hendaklah seseorang bersedekah dengan gandumnya, dan dengan kurmanya. Dan janganlah meremehkan dalam sedekah itu walaupun dengan satu biji kurma”. (HR.Muslim, An Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Mardawaih )

Pada saat itu  juga berdirilah seseorang dari kaum Anshor yang ada “Busroh” di tangannya (memberikan sesuatu kepada Rasulullah), lalu Rasulullah SAW menerima pemberiannya dan ia sedang berada diatas mimbarnya dan tampaklah kegembiraan pada wajah beliau (Rasulullah). Lalu beliau bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعَمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ اَجْرُهَا وَمِثْلُ اَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ وِزْرِمَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصَ مِنْ اَوْزَارِهِمْ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالنَّسَائى وَابْنُ مَاجَه وَابنُ مَرْدَوَيْه)

“Barang siapa membiasakan sesuatu yang baik  dalam Islam lalu ia mengamalkan-nya, adalah baginya pahalanya dan seperti pahala orang yang mengerjakannya tidak berkurang sedikitpun. dan barangsiapa yang membiasakan kebiasaan buruk dan ia mengamalkannya maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya tidak berkurang dosanya sedikitpun ” (HR  Muslim, AnNasai, ibnu majah dan ibnu mardawaih)

KETERANGAN

Kata-kata taqwa merupakan kata-data dasar atau kata kunci dalam Al Qur’an, Ada beberapa pengertian tentang lafadz taqwa, yaitu:

  1. Taqwa adalah: “kesadaran ketuhanan atau god consiousness (kesadaran rabbaniyah) yaitu suatu kesadaran ketuhanan yang selalu maha hadir dengan sekaligus sikap kesediaan menyesuaikan diri dibawah cahaya ketuhanan tersebut”.[1]

     Pencapaian kesadaran inilah yang merupakan misi utama diutusnya para nabi dan rasul.  kesadaran inilah yang memberi efek kepada setiap mukmin untuk hidup dalam standar moral yang tinggi dan selalu menciptakan kemaslahatan-kemaslahatan dalam berbagai kehidupan.

  1. Taqwa adalah orang yang memiliki mekanisme atau daya penangkal terhadap kejahatan yang merusak diri sendiri dan orang lain. (Mirza nadzir Ahmad dalam The Holy Qur’an)
  2. Taqwa merupakan kondisi yang menjadikan hati selalu waspada, menghadirkan dan merasakan pengawasan Allah dalam setiap keadaan. Ia takut, merasa bersalah, dan malu bila Allah mendapatinya berada dalam keadaan yang dibencinya.[2]

 

[1] Nur Cholis Madjid, Pesan-pesan Takwa Nur Cholish Majdid, Kumpulan Khutbah Jumat di Paramadina, Paramadina, 2005

[2] Sayyid Qutb, Fi dzilalil Qur’an (Di Bawah Naungan Al Qur’an. Jilid 11 hal 221, Jakarta; Gema Insani Press, 2004