Pembicaraan tentang masyarakat Islam ideal dalam rangkaian QS al-Baqarah (2): 142-150 juga meliputi kepribadian yang seharusnya mereka miliki. Dalam rangkaian itu terdapat 10 sifat yang menjadi kepribadian mereka dengan 8 di antaranya disebutkan secara simultan di dua ayat terakhir, sedang dua yang lain ditemukan dari munasabah antar ayat yang ada di dalamnya. Sifat-sifat itu adalah sebagai berikut:
1. Berjiwa besar
Sifat ini dipahami dari munasabah antara ayat 142 dengan 143. Dalam ayat pertama disebutkan al-sufahä, jamak dari säfih yang dalam bahasa Arab digunakan dengan arti orang yang mengalami keterbelakangan mental karena kurang akal atau idiot.[1] Kata al-sufaha( السُّفَهَاءُ) dalam ayat itu menunjuk kepada orang yang membodohkan diri sendiri dengan tidak mau menerima millah Ibrahim yang disebutkan dalam al-Baqarah (2): 130 Dari hubungan ini diketahui bahwa al-sufaha’ pengertiannya bukan orang-orang idiot yang tidak berpengetahuan karena kurang akal, tapi orang kurang akal karena tidak mau mengerti kebenaran millah Ibrahim dan kebenaran perubahan arah kiblat dari Baitulmaqdis ke Masjidilharam. Orang-orang yang tidak mau mengerti kebenaran ini adalah orang-orang yang berjiwa kerdil karena berpikiran picik. Dengan dinyatakannya umat Islam menjadi masyarakat pilihan dalam al-Baqarah (2): 143, mereka tidak diperbolehkan memiliki jiwa kerdil seperti itu. Mereka harus menjadi antitesa dari al-sufahā’, yakni menjadi orang-orang yang berjiwa besar Makna antitesa ini merupakan makna yang ditemukan dari munasabah antara dua ayat di atas yang berpola tadladd, menyebutkan dua hal yang berlawanan secara berurutan.
2. Terkemuka
Sifat ini dipahami dari ungkapan fastabiqul-khairat (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ) dalam al-Baqarah (2): 148. Fa adalah kata penghubung untuk menyatakan jawaban (harf al-jawab) yang berarti “maka” dan secara bebas bisa diterjemahkan dengan “karena itu”. Istabiqü merupakan kata perintah dari kata kerja bentuk lampau istabaqa, dibentuk dari sabaqa yang berarti mendahului atau berada di depan. Jadi istabaqa merupakan tsulātsī mazid (kata terdiri dari tiga akar yang diberi tambahan huruf) dengan tambahan hamzah dan ta’ yang bermakna lith-thalab, menyatakan usaha. Adapun al-khairat adalah jamak dari al-khair, berarti kebaikan yang disenangi semua orang.[2] Berdasarkan ini, ungkapan itu berarti “maka (karena itu) berusahalah kamu sekalian untuk berada di depan dalam semua kebaikan yang disenangi semua orang”. Ungkapan ini merupakan perintah kepada umat Islam untuk merespons idealitas sistem sosial egaliter dan struktur sosial masyarakat negara yang diidealkan oleh Al-Qur’an yang telah dijelaskan di atas. Dengan demikian mereka diperintahkan untuk memberi respons kreatif terhadap pluralitas masyarakat dalam masyarakat global dan pluralitas komunitas atau warga dalam masyarakat Islam. Dalam hidup di tengah masyarakat global dan plural itu mereka harus menjadi masyarakat dan komunitas yang selalu berusaha untuk berada di depan atau terkemuka dalam semua bidang yang disenangi oleh seluruh warga, tidak terbatas pada bidang spiritual saja, baik itu bidang ilmu pengetahuan, politik, ekonomi maupun yang lain.
3. Pencerah
Sifat ini dipahami dari ungkapan yatlü ‘alaikum āyātinā (يَتْلُوا عَلَيْكُمْ أَيْتِنَا) yang berarti “membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu sekalian” dalam Q.S. al-Baqarah (2): 151. Ungkapan ini (dan ungkapan-ungkapan lain yang menjadi dasar sifat-sifat kepribadian masayarakat Islam dalam ayat ini) menunjukkan kegiatan yang dilakukan Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah rahmat bagi seluruh alam (Q.S. al-Anbiya [21]: 107) Risalah itu menjadi mandat baginya untuk mewujudkan kebaikan nyata dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Dalam melaksanakan mandat ini sudah barang tentu dia menyampaikan firman Allah yang diwahyukan kepadanya (ayat qauliyyah) sebagai pedoman untuk mewujudkan kebaikan nyata. Di samping itu dia juga menyampaikan pembacaan ayat-ayat alam (ayat kauntyyah) dan ayat sejarah (ayat tarikhiyyah). Melalui penyampaian dan pembacaan itu umat bisa memahami kehendak Allah yang diungkapkan dalam ketiga ayat tersebut. Pemahaman ini menjadi modal pengetahuan bagi mereka untuk mewujudkan kebaikan nyata dalam kehidupan mereka sendiri. Sesuai dengan tuntutan risalah rahmat di atas, mereka pun dituntut untuk terlibat dengan berperan aktif mewujudkan kebaikan nyata bagi masyarakat lain. Dengan demikian ungkapan tersebut menunjuk kepada peran mereka masyarakat Islam sebagai masyarakat pembebas dalam sejarah. Peran ini pada periode sejarah awal Islam tergambar dalam penerapan konsep fath (pembebasan) dalam dakwah perluasan wilayah kekuasaan kekhalifan.
4. Bersih
Sifat ini dipahami dari ungkapan wa yuzakki kum )وَيُرْكَيْكُمْ( yang berarti dia menyucikan kamu sekalian, dalam Q.S. al-Baqarah (2): 151. Nabi menyucikan mereka dari segala kotoran yang melekat pada batın dan lahir mereka di zaman jahiliah. Jadi ungkapan ini menunjukkan sifat bersih yang harus dimiliki umat sebagai pribadi dan kelompok. Sebagai pribadi dan yang kamu tidak ketahui”. Dengan mengajarkan apa yang sebelumnya tidak diketahui, umat Islam bisa memiliki wawasan yang luas. Secara tersirat ungkapan itu berisi perintah kepada mereka untuk terus belajar. Perintah ini kemudian menjadi tersurat dalam sebuah hadis yang menganjurkan umat untuk belajar dari ayunan sampai ke liang lahat. Jadi mereka harus melakukan never ending process of learning sehingga menjadi masyarakat belajar, learning society, yang memiliki wawasan luas untuk terus memperbaiki kehidupan mereka dari waktu ke waktu dan dari satu taraf ke taraf lain yang lebih tinggi.
8. Religius
Sifat ini dipahami dari ungkapan fadzkurūni adzkurkum )فَادْكُرُونَى أَذْكُرْكُمْ( yang artinya “ingatlah Aku, maka Aku ingat kepada kamu sekalian” Ungkapan ini tidak hanya menganjurkan umat Islam untuk berizikir dengan membaca kalimat puji-puji, tapi menganjurkan mereka untuk bisa memiliki kesadaran yang tinggi terhadap Allah sehingga bisa menghadirkan-Nya dalam kehidupan yang nyata. Menghadirkan Allah dalam kehidupan nyata itu dalam sebuah hadis dinyatakan dengan menjadi orang yang paling baik budi pekertinya. Dengan demikian mereka menjadi masyarakat religius dengan keberagamaan etis, tidak dengan keberagamaan spiritualistik dan formalistik seperti yang dialami umat Islam sekarang
9. Efektif
Sifat ini dipahami dari ungkapan wasykurüli ) وَاشْكُرُوا yang artinya “bersyukurlah kepada-Ku”. Ungkapan ini memerintahkan umat Islam untuk bersyukur. Syukur yang seharusnya mereka lakukan adalah syukur yang dapat meningkatkan anugerah (Q.S. Ibrāhīm [14]: 7) Syukur demikian hanya bisa dilakukan dengan memanfaatkan segala anugerah, yang dalam bahasa populer sekarang disebut sumber daya, secara efektif, memberikan efek atau membuahkan hasil yang jelas. Dengan demikian masyarakat Islam menjadi masyarakat yang efektif dalam memanfaatkan segala sumber daya yang mereka miliki, baik sumber daya jasmani maupun rohani, sumber daya alam maupun sumber daya insani.
10. Efisien
Sifat ini dipahami dari ungkapan wa la takfurun )وَلَا تَكْفُرُ yang artinya “dan janganlah kamu sekalian ingkar kepada-Ku” Ungkapan ini menyatakan larangan bagi umat Islam melakukan kekufuran. Kekufuran yang dilarang bisa pengingkaran dalam akidah dan pengingkaran anugerah. Pengingkaran ini menunjukkan ketidakmampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat. Dengan demikian ungkapan itu menunjukkan supaya masyarakat Islam menjadi masyarakat yang efisien. Maksudnya, di samping dapat menjalankan tugas dengan baik dan tepat, mereka juga dapat melaksanakan segala sesuatu dengan tepat sesuai rencana dan tidak membuang-buang waktu. Kesadaran tentang efisiensi ini sangat kuat dalam Al-Qur’an yang di antaranya terbaca dalam Surah al-‘Ashr dan ada dalam diri sahabat ‘Ali bin Abi Thalib yang mengemukakan pernyataan populer: al-haqqu bila nizhāmin yaghlibuhul-bathilu bi nizhām (kebenaran tanpa pengorganisasian dikalahkan oleh kebatilan yang dilakukan dengan pengorganisasian
Dari uraian di atas jelas bahwa ajaran tentang masyarakat dalam rangkaian Q.S. al-Baqarah (2): 114-152 sangat maju. Sayangnya ajaran itu tidak dikenal oleh umat Islam karena belum ada dalam tradisi yang mereka warisi yang membentuk kesadaran dan keberagamaan mereka. Tradisi itu adalah fikih yang menekankan hukum, kalam yang menekankan teologi ketuhanan dan tasawuf yang menekankan spriritualitas. Dengan tradisi itu sudah lama mereka mengalami krisis identitas dan defisit akhlak yang membuat mereka sangat jauh darı idealitas Islam Rahmatan lil Alamin. Untuk mengatasi krisis dan defisit ini, tafsir yang menjelaskan identitas, sistem dan struktur sosial, dan kepribadian masyarakat Islam seperti yang baru saja diuraikan dapat diserap dalam materi tafsir dan fikih bidang sosial-kemasyarakatan yang diajarkan dalam pendidikan secara luas. Melalui pendidikan demikian ajaran itu bisa disosialisasikan dan pada gilirannya dapat diinternalisasikan oleh umat sehingga identitas, sistem dan struktur sosial dan kepribadian masyarakat itu menjadi melekat dalam diri mereka. Apabila ini berhasil dilakukan, bisa dipastikan bahwa mereka tidak lagi menjadi pencundang, seperti terjadi pada awal abad ke-21 sekarang. Sekarang umat Islam relatif sendirian menjadi masyarakat tertinggal setelah Cina dan India-yang pada masa perang dingin juga tertinggal- relatif berhasil melakukan transformasi menjadi masyarakat industri.
Indonesia.
Pengertian efisien ini berdasarkan pada pengertian yang dijelaskan dalam KBBI
Al ashfahani, mu’ jam Ibid, 240, Ibid him. 163
[1] Al-Ashfahani, Mu’jam, hlm. 240.
[2] Ibid., hlm. 163
BUKU TAFSIR AT-TANWIR JILID 2 halaman 19-26
Komentar Terbaru