Macam-Macam Godaan Syaithan
Untuk menyesatkan manusia dan membuat mereka lupa kepada Allah dan jalan kebaikan, ada beberapa macam godaan syaithan yaitu:
- Tazyin (memandang baik perbuatan maksiyat)
Sebagaimana terdapat dalam beberapa surah Al-Qur’an (QS. 6:43, 8:48, 16:63, 27:24), jelasnya dapat dilihat dalam Surat Al-Hijr (15): 39-40
قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ.
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh
sebab engkau memutuskan bahwa aku sesat,
pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-
hamba Engkau yang mukhlis diantara
mereka”.
(QS. Al-Hijr 15: 39-40)
- Wa’dun (janji palsu).
Dalam surat Ibrahim (14): 22
وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ.
“Dan berkatalah syaithan tatkala perkara (hisab)
telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah men-
janjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seru-anku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat meno-longku. Sesungguhnya aku tidak dapat membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yangdzalim itu mendapat siksaan yang pedih”
(QS. Ibrahim: 22)
Seringkali syaithan dengan bisikan-bisikannya menjanjikan seolah-olah ia akan menolong manusia (pengikut-pengikutnya) pada hari pembalasa kelak, padahal sebenarnya syaithan dan gerombolannya tak memiliki kekuatan apapun untuk menolong manusia.
- Shaddun (menghambat manusia dari jalan Allah)
Syaithan-syaithan berusaha untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Tambah tinggi nilai kebaikan yang akan dilakukan maka bertambah gencar syaithan dengan berbagai macam upaya untuk menghalanginya. Dalam Surat Al-Ankabut (29) ayat 38 dikatakan, sebagai berikut:
وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ فَصَدَّهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَكَانُواْ مُسۡتَبۡصِرِينَ.
“… dan Syaithan menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan Allah…”
(QS. Al-Ankabut:38)
وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ.
“Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaithan; sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu”.
(QS. Az-Zukhruf: 62)
- Kaidun (tipu daya)
Syaithan selalu menipu manusia agar terpedaya untuk memerangi orang mukmin dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan dari kebaikan yang dilakukannya. Surat An-Nisaa’ (4): 76 yang berbunyi:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَٰتِلُونَ فِي
سَبِيلِ ٱلطَّٰغُوتِ فَقَٰتِلُوٓاْ أَوۡلِيَآءَ ٱلشَّيۡطَٰنِۖ إِنَّ كَيۡدَ ٱلشَّيۡطَٰنِ
كَانَ ضَعِيفًا.
“Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah”.
(QS. An-Nisaa’: 76)
- Waswasah (bisikan-bisikan jahat)
Seringkali syaithan membisikkan kejahatan dengan kata-kata yang manis dan menarik, hingga manusia terpedaya untuk mengikutinya, dan menyangka dunia ciptaan syaithan itu manis dan indah, padahal sesungguhnya menjerumuskannya pada perbuatan dosa dan maksiyat. Sebagaimana dapat kita baca pada Surat An-Naas (114) ayat 1-6 yang berbunyi:
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ. مَلِكِ ٱلنَّاسِ . إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ. مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ. ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ.مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ .
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb manusia.
Raja manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia”.
(QS. An-Naas: 1-6)
Dalam surat Al-A’raf (7) ayat 20 dikatakan
فَوَسۡوَسَ لَهُمَا ٱلشَّيۡطَٰنُ لِيُبۡدِيَ لَهُمَا مَا وُۥرِيَ عَنۡهُمَا مِن سَوۡءَٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ ٢٠
“Maka syaithan membisikkan pikiranjahat Kepada
keduanya untuk menampakkankepada keduanya apa
yang tertutup dari merekayaitu aurat-nyadan syaithan
berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal”
(QS. Al-A’raf: 20)
- Tamanni (menimbulkan angan-angan)
Perbedaan antara orang munafik dan orang mukmin adalah karena mereka (orang-orang munafik) memiliki angan-angan yang tinggi dan kosong, hingga tidak melakukan amal sholeh dalam kehidupan, dengan demikian hatinya menjadi keras dan sulit menerima hidayah Allah, sebagaimana tertera dalam Surat An-Nisaa’ (4) ayat 118-119 yang berbunyi:
لَّعَنَهُ ٱللَّهُۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنۡ عِبَادِكَ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗا. وَلَأُضِلَّنَّهُمۡ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمۡ وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِۚ وَمَن يَتَّخِذِ ٱلشَّيۡطَٰنَ وَلِيّٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ فَقَدۡ خَسِرَ خُسۡرَانٗا مُّبِينٗا.
“Allah melaknatnya dan syaitan itu mengatakan:
“Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya). Dan aku benar-benar akan menyesarkan mereka, dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaithan sebagai wali selain Allah maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.
(QS. An-Nisaa’: 118-119)
- Nisyan (lupa pada kebaikan)
Seringkali karena godaan syaithan, kita menjadi lupa untuk melakukan kebaikan, misalnya berinfak, belajar, berbakti kepada kedua orang tua, berjuang di jalan Allah dan berbagai macam kebaikan-kebaikan lain yang membuat kita melupakan esensi kehidupan kita sendiri.
Terdapat dalam surat Yusuf (12): 42, Al-Kahfi (8): 63. Untuk lebih jelasnya, Nampak pada surat Al-An’am (6): 68 yang berbunyi
وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ.
“Dan apabila kamu melihat orang-orang mem
perolok-olokkan ayat-ayat kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraanyang lain. Dan jika syaithan membuatmu lupa (akanlarangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat akan larangan itu”.
(QS. Al-An’am: 68)
- Al-‘Adawah (permusuhan)
Salah satu godaan syaithan adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian di kalangan ummat Islam, hingga kita sering melihat umat Islam satu sama lain saling bermusuhan dan berpecah-belah hanya karena perbedan-perbedaan kecil saja, baik dalam paham agama maupun dalam kehidupan sehari-hari. Permusuhan dan perpecahan menyebabkan terjadinya kelemahan dan keterbelakangan yang menimpa umat ini. Seharusnya ummat ini sadar bahwa pengaruh syaithanlah yang menyebabkan mereka berpecah dan bermusuhan dalam persoalan-persoalan kecil. Para sahabatpun pernah berkelahi dengan sahabat lain karena pengaruh minuman keras yang diminumnya, ketika sahabat bin Malik mengadakan penjamuan walimah dengan memanggil kaum mukmin. Hal itu terjadi sebelum minuman keras itu diharamkan dalam Islam.[1]
Dalam surat Al-Maidah (5): 91
إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ فِي ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِ وَيَصُدَّكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِۖ فَهَلۡ أَنتُم مُّنتَهُونَ
“Sesungguhnya syaithan itu bermaksud
hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian
di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dansembahyang; maka berhentilah kamu
(dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
(QS. Al-Maidah: 91)
- Takhrif (menakut-nakuti)
Syaithan menakut-nakuti manusia dengan berbagai hal sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada surat Ali-Imran (3): 175 yang berbunyi:
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
“Sesungguhnya mereka itu tidaklah lain
hanyalah syaithan yang menakut-nakuti teman-
temannya (yaitu kalian), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman”.
(QS. Ali-Imran: 175)
Takut yang dimaksud disini bukanlah takut yang alami, seperti takutnya seseorang terhadap binatang buas, atau takut terhadap halilintar dan lain sebagainya yang bersifat alamiah, dan bukan pula takut yang bersifat syar’i (sesuai dengan syari’at Islam) seperti takut melakukan kemaksiatan. Tetapi takut yang dijadikan senjata syaithan ini adalah takut menyatakan kebenaran, takut menegakkan hukum Allah, takut melakukan amar makruf nahi mungkar, takut berjuang, takut berjihad, di jalan Allah karena takut miskin, takut kehilangan jabatan, takut masuk penjara, takut tidak populer dan takut mati syahid. Semua itu adalah ketakutan-ketakutan yang ditimbulkan oleh syaithan agar kita masuk dalam golongannya dan tidak termasuk dalam hamba-hamba Allah yang ta’at.
- Sihir
Walaupun banyak pertentangan mengenai sihir di kalangan ummat Islam, namun jika kita lihat beberapa surat Al-Qur’an dan penafsirannya, kita dapat menarik gambaran yang jelas mengenai adanya sihir dan hubungannya dengan godaan syaithan sebagaimana ditulis oleh Ustadz Wahid Abdus Salam Baly.[2]
Beberapa dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan sihir adalah sebagai berikut:
Surat Al-Baqarah (2): 102
وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ
“Dan mereka mengikuti apa-apa yang
dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa kera-
jaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulai-
man itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithan
itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka
mengajarkan sihir kepada manusia”.
(QS. Al-Baqarah: 102)
Surat Yunus (10): 77
قَالَ مُوسَىٰٓ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ أَسِحۡرٌ هَٰذَا وَلَا يُفۡلِحُ
ٱلسَّٰحِرُونَ.
“Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan
terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu,
sihirkah ini?” padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah
mendapat kemenangan”.
(QS. Yunus: 77)
Surat Yunus (10): 81-82
فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٨١ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ ِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٨٢
“Maka setelah mereka lemparkan, Musa
berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah
yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya”. Sesungguhnya Allah tidak akan membenarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengkokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya. Walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak
menyukai-Nya”.
(QS. Yunus: 81-82)
Surat Thaaha (20): 67-69
فَأَوۡجَسَ فِي نَفۡسِهِۦ خِيفَةٗ مُّوسَىٰ ٦٧ قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ
أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ ٦٨ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ
“Maka Musa merasa takut dalam hatinya.
Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesung-
guhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya iaakan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguh-
nya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya
tukang sihir belaka. Dan tidak akan menang
tukang sihir itu, darimana saja ia datang.”
(QS. Thaaha: 67-69)
Surat Al-Falaq (113): 1-5
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ١ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ٢ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ٣ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ ٤ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ٥
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan
Yang Mengasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya,
dan dari kejahatan malam dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari orang yang dengki apabila ia dengki”.
(QS. Al-Falaq: 1-5)
Untuk lebih memperjelas makna sihir dalam Al-Qur’an, Allamah Ustad Wahid Abdussalam Balu menerangkan beberapa penafsiran tentang kalimat (وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ) sebagai berikut:
- Menurut Al-Qurtubi ayat tersebut berarti tukang sihir wanita yang meludah pada simpul (buhul) benang, ketika membacakan mantera (melakukan sihir).[3]
- Menurut Ibnu Katsir dengan mengutip pendapat Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qotadah dan Al-Dhahak, mengatakan bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah tukang sihir wanita.[4]
- Menurut Ibnu Jarir Al-Thabari, yang dimaksud ayat tersebut adalah kejahatan tukang sihir wanita yang meludahi pada simpul (buhul) benang ketika melakukan sihir dan demikian pula pendapat dan para ahli ta’wil.[5]
Dari ayat diatas jelaslah bahwa sihir itu memang ada dan terdapat dalam masyarakat, namun semua itu dapat terjadi hanya atas kehendak Allah, dan seorang muslim diperintahkan untuk menjauhkan diri dan menjaga dirinya dari hal-hal demikian sebagaimana hadist Imran bin Husain dari Rasulullah (hal. 20: 2) yang berbunyi:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطَيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهَو وَمَنْ اَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari “Imran Ibn Hushain ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golonganku, orang yang percaya kepada perhitungan nasib dengan burung,
atau minta diramal nasibnya, atau orang yang mengaku tahu masalah ghaib dan orang yang datang kepada dukun,
atau orang yang menyihir dan yang menyuruh mengerjakan sihir untuk kepentingannya. Barangsiapa mendatangi tukang tenung (dukun) dan membenarkan ucupannya, maka ia
telah kufur terhadap wahyu yang
diturunkan kepada Muhammad SAW.[6]
Demikianlah berbagai macam godaan syaithan yang tidak hanya dilakukan oleh jin saja tapi juga oleh manusia yang telah masuk dalam Hizbu asy-syaithan dengan menggunakan sarana dan prasarana yang lebih canggih dan kongkrit untuk mewujudkan keingan-keinginan jahat syaithan sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Al-An’am (6): 112 yang berbunyi:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-
tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari
jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain Perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”
(QS. Al-An’am: 112)
Pada puisi berikut dapat kita lihat bagaimana tipu daya syaithan mempengaruhi manusia dari berbagai segi.
SYAITHAN
Wahai Teman yang teramat dekat!
Pantaskah aku bersahabat denganmu
Engkau yang melatihku dengan nafsu yang membara
Yang mengajakku bertarung dengan diriku sendiri
Yang menentang ruh Tuhan dalam qalbuku
Yang siap menurunkan derajat diriku
Dalam kehinaan serendah cacing
Yang mengubah cahayaku
Menjadi api yang berkobar-kobar
Yang mengusung jenazah keulamaanku
Dan mengangkatku menjadi pahlawan dunia kerusuhan
Yang mengelus-elus jiwa meranaku dengan keapatisan
Engkau syaithan, yang mengalir dalam tiap sel darahku
Dengan kuku-kuku tajammu
Engkau cengkeram hatiku hingga
Atas nama cinta engkau seret aku pada kemaksiatan
Atas nama agama engkau jebak aku pada kebodohan
Atas nama Tuhan engkau hasung aku pada perpecahan
Atas nama perjuangan engkau ajak aku pada kedurjanaan ambisi
Atas nama keadilan engkau bawa aku pada kesewenang-wenangan
Atas nama keshalihan engkau jebak aku pada keapatisan
Atas nama hukum engkau kaburkan penjahat dan pahlawan
Atas nama kezuhudan engkau tarik aku pada kemiskinan
Atas nama ukhuwah engkau jebak aku pada ta’assub
Atas nama kebaikan engkau hipnotis aku dengan riya’
Atas nama kasih sayang engkau ajak aku pada kezhaliman
Atas nama toleransi engkau jebak aku tuk kaburkan kebenaran
Atas nama sopan santun engkau hasung aku tuk sembunyikan kemutlakan
Atas nama keindahan engkau seret aku tuk perturutkan nafsu
Atas nama keuntungan engkau seret aku pada korupsi
Atas nama perdagangan engkau jayakan riba’
Atas nama bantuan engkau jajah suatu negeri
Atas nama krisis engkau makmurkan para monster
Atas nama pembangunan engkau peras keringat rakyat
Engkau teman yang teramat dekat
Engkau sakiti ruh dalam diriku
Bersamamu semua kelezatan menipu
Mengaburkan jalan lurus nan sempurna
Namun tiada layak menghujatmu semata
Karena Adam telah telah membuatmu sekarat dan tersedu
Nestapa dalam pencarian Sahabat
Engkau teman yang teramat dekat
Harus kubangun benteng baja nurani
Harus kusiram bara murka apimu
Harus kunyalakan cahaya kebaikan abadi
Harus kugenggam caha cinta Ilahi
Agar cahaya kidung tauhidku
Dapat menghantam kelembutan tipu dayamu
Selain dari godaan syaithan, keburukan-keburukan manusia dapat terjadi karena keinginan rendah atau hawa nafsu yang diikuti, sebagaimana Al-Junayd, seorang sufi yang cukup populer mengatakan: “Perbedaan di antara keduanya (dorongan yang muncul dari syaithan dan dorongan yang muncul dari jiwa yang rendah) yaitu dorongan yang muncul dari jiwa yang rendah terus-menerus menggoda individu dan tidak berlalu begitu saja, sedangkan dorongan syaithan untuk saat-saat tertentu tidak ada dan kemudia kembali menyerang.”[7]
Namun kita tidak boleh terjebak dalam anggapan bahwa dorongan-dorongan dari jiwa yang rendah itu lebih berbahaya karena kualitasnya yang senantiasa ada, namun sebaliknya pada serangan setanlah manusia harus menganggapnya sebagai bahaya spiritual yang paling besar.
Hawa nafsu manusia (Al-Ahwa’), menjadi sumber yang tak terbatas untuk menciptakan bujukan-bujukan yang baru serta berhala-berhala duniawi. Terkadang orang mencintai hawa nafsunya yang berarti mencintai iblis, musuh Allah, yang senantiasa mendorong mereka pada kebodohan yang lebih besar dan ketidakpedulian akan cinta Allah Yang Maha Tinggi.[8]
—ooo0ooo—-
[1] Munawwar Kholil, Kelengkapan Tarich Muhammad SAW;Jilid IIIA (Jakarta: Bulan Bintang, t.t.) hal. 4
[2] Untuk lebih jelasnya mengenai sihir ini dapat dibaca dalam buku “Ilmu Sihir dan Penangkalnya” karangan Ustadz Wahid Abdus-Salam Baly atau dalam buku “Wiqayah Al Insan min Al-Jin wa Al-Syaithani” karangan Ustad Wahid Abdus-Salam Baly)
[3] ____________, Tafsir Al-Qurtubi jilid XX (t.p: t.t.) hal. 258
[4] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azdim jilid IV (Maktabah Al-Halabi, t.t.) hal. 302.
[5] _______________, Tafsir Al-Qosimi jilid X (t.p: t.t.) hal. 302.
[6] Menurut Syaikh Wahid Abdu Assalam Baly, hadist ini diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad shahih kecuali Ishaq ibn al Rabi’i, ia dapat dipercaya.
[7] Peter J. Awn, op. Cit., hal. 140
[8] Ibid. hal. 149.
Komentar Terbaru