A. Kronologi Permusuhan Syaithan Terhadap Manusia
Jika dilihat bagaimana syaithan selalu berusaha untuk menggoda manusia agar tersesat dari jalan Allah, tentu hal itu berkenaan dengan sesuatu yang sangat prinsip dalam kehidupan, untuk itu ada baiknya kita melihat bagaimana konsep Al-Qur’an dalam penciptaan manusia dan bagaimana peranan iblis yang selalu menggodanya.
Pada Surat Al-Baqarah (2) ayat 30 dijelaskan tujuan penciptaan manusia sebagai seorang khalifah di muka bumi, padahal bersamaan dengan itu juga pernah ada makhluk lain yang pernah mendiami bumi dan membuat kerusakan. Sehingga malaikat mempertanyakan tujuan Allah menciptakan manusia, padahal mereka semua (para malaikat) telah beribadah kepada Allah dengan cukup. Tapi Allah berkenan untuk menjadikan seorang kholifah yang akan mewakili-Nya menjadi penguasa yang real di atas bumi ini. Sebagaimana tertera dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 30 yang berbunyi sebagai berikut:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ
أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ
بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ.
“Dan ingatlah, Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 30)
Untuk membekali makhluk ciptaan-Nya tersebut menjadi kholifah maka Allah memberinya potensi-potensi sebagai manusia yang layak dan mampu mengemban misi kekholifahan tersebut.
Diantara potensi tersebut adalah ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا yang berarti “nama-nama seluruhnya” sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 31 yang berbunyi:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبُِٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ.
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah:31)
Pengertian “Al-Asma” dalam ayat tersebut menurut Ibnu Katsir adalah “zat, sifat dan perbuatan-perbuatan segala makhluk ciptaan Allah yang diajarkan kepada Adam dalam proses penciptaannya.”2 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Asma tersebut berwujud pengetahuan tentang alam dengan segala hukum yang berlaku di dalamnya atau dengan istilah lain disebut sunnatullah. Pengetahuan tentang sunnatullah ini yang kemudian diajarkan Adam kepada anak cucunya di bumi untuk dijabarkan dan dikembangkan dalam kehidupan nyata di dunia. Penjabaran dan pengembangan sunnatullah tersebut sekarang berupa ilmu pengetahuan dan teknologi.
Selain pemahaman Al-Asma sebagai sunnatullah, dalam kata (ayat) juga terkandung pengertian Asma Allah yang di dalam Al-Qur’an terkenal dengan nama Al-Asma’ul Husna yang artinya nama-nama yang indah bagi Allah. Al-Asma’ul Husna menunjukkan sifat-sifat yang khusus bagi Allah seperti Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Quddus, Al-Alim, Al-Khaliq, Al-Hayyu, dan lain sebagainya.
Menurut Hasan Langgulung sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Asma’ul Husna tersebut telah ditanamkan dalam diri manusia sejak awal penciptaannya, berupa potensi-potensi pembawaan yang bersesuaian dengan sifat-sifat Allah tersebut, namun dengan kadar yang jauh lebih kecil3. Hal tersebut menurut Hasan Langgulung tercantum dalam Surat Al-Hijr (15) ayat 29 yang berbunyi:
فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ.
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dalam keadaan bersujud.” (QS. Al-Hijr: 29)
Dari dua pengertian Al Asma’ di atas dapat dipahami bahwa tugas manusia itu bersifat bidimensional yang meliputi tugas kekhalifahan dan tugas kehambaan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lain.
Karena Adam sebagai manusia pertama telah dibekali berbagai macam ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, maka para malaikat disuruh untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan atas kemuliaannya dan pengakuan atas kekholifahannya, namun iblis menolak untuk bersujud karena kesombongannya, sebagaimana tertera dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 34 yang berbunyi:
وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ.
“Dan ingatlah Ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, “Maka sujudlah mereka kecuali iblis; Ia enggan dan takabur, adalah ia termasuk golongan orang-orang kafir”.
(QS. Al-Baqarah: 34)
Setelah kejadian tersebut, diungkapkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang lain bagaimana iblis berusaha untuk menggoda Adam dan anak cucu keturunannya agar jauh dari hidayah Allah . Sebagaimana tertuang dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 16 dan 17 yang berbunyi:
قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ. ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ.
“Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka Dari jalan Engkau yang lurus kemudian saya akan mendatangi mereka dari belakang mereka,dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).” (QS. Al-A’raf: 16-17)
Dari paparan ayat di atas telah jelas bagaimana syaithan akan berusaha ters menerus untuk mengganggu manusia dengan berbagai macam tipu daya, hingga Allah memepringati manusia dalam banyak ayat Al-Qur’an agar berhati-hati dengan musuh yang sangat nyata ini. Dapat dilihat pada Surat Thaaha (20) ayat 117 yang berbunyi sebagai berikut:
فَقُلۡنَا يَٰٓـَٔادَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوّٞ لَّكَ وَلِزَوۡجِكَ فَلَا يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ
“Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka janganlah sekali-kali ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka” (QS. Thaaha (20): 117)
Dapat dilihat juga dalam Surat Fathir (35) ayat 6 yang berbunyi sebagai berikut:
إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦
“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian), karena sesungguhnya syaithan-syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka
yang menyala-nyala” (QS. Fathir: 6)
Dapat dilihat juga dalam dalam surat Al-Israa’ (17) ayat 53 yang berbunyi:
إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٗا مُّبِينٗا
“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia” (QS. Al-Israa: 53)
Dari ayat diatas nampak jelas bahwa iblis akan selalu menggoda manusia agar manusia termasuk dalam golongannya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
B. Pendapat Mengenai Iblis Dan Syaithan
Para ahli berbeda pendapat mengenai siapa sesungguhnya Iblis tersebut, sebab di dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 34,
( فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِىْسَ)menggunakan Adatul Hasyr إِلاَّ (huruf untuk membatasi) yang berarti kecuali. Dengan susunan kalimat demikian seoalah-olah dia (iblis) dimasukkan dalam golongan malaikat. Sedangkan antara iblis (Jin) dan Malaikat sungguh berbeda, sebagaimana diterangkan dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW. yang berbunyi
خُلِقَتِ الْمَلَئِكَةُ مِنَ النَّارِ وَخُلَقَ الْجَآنُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ, وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ ذَالِكَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
“Malaikat itu dicipatakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua” (HR. Muslim)
Karena malaikat diciptakan dari cahaya, maka dia selalu menghambakan diri kepada Allah dan patuh akan segala perintah-Nya, serta tidak pernah berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah SWT, sedangkan jin diciptakan dari api (15:26-27), dan bangsa jin juga diperintahkan untuk mengerjakan syariat agama, sehingga bangsa jin itu ada yang patuh dan ada yang durhaka sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat Al-Jin (72) ayat 11 yang berbunyi sebagai berikut:
وَأَنَّا مِنَّا ٱلصَّٰلِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَۖ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدٗا ١١
“Dan sesungguhnya diantara kami (bangsa jin) ada yang shaleh dan ada pula yang tidak demikian halnya. adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS Al-Jin: 11)
Dengan adanya 2 ayat tersebut diatas (QS 2: 34 dan 15: 26-27), para ahli berbeda pendapat mengenai siapa sesungguhnya syaithan (iblis) itu, dimana manusia disuruh berlindung kepada Allah atas godaannya:
- Menurut salah satu pendapat dalam Tafsir Al-Maraghi, bahwa iblis itu adalah golongan malaikat, karena sasaran perintah untuk bersujud pada surat Al-Baqarah (2) ayat 34 ditujukan pada malaikat. Adapun mengenai keingkaran salah satu dari mereka, Al-Baghawi menjelaskan bahwa ketaatan para malaikat adalah merupakan tabiat mereka, sedangkan kedurhakaan mereka adalah merupakan masalah taklifiah (pembebanan), berbalikan dengan manusia dimana ketaatan adalah urusan taklifiah (pembebanan hukum), sedangkan mengikuti hawa nafsu merupakan tabiat manusia”.[1]
- Menurut Drs. Yunahar Ilyas, Lc.
“Syaithan adalah anak cucu iblis, sedangkan iblis adalah makhluk ghaib dari kalangan jin yang pertama kali durhaka kepada Allah dan bertekad untuk menggoda umat manusia (anak cucu Adam) agar manusia mengikuti langkah mereka menentang perintah Allah.”[2]
- Dalam mitos kaum sufi, syaithan/iblis adalah seorang jin pertapa (zahid) yang bernama azazil, karena tidak mampu bertahan dalam kerusakan bangsanya, dia pindah kelangit yang tinggi dan melakukan pertapaan disana terpisah dari kejahatan dunia dan mengabdikan hidupnya untuk menyembah kepada Allah Yang Maha Esa, sampai kemudian kecemburuannya kepada Adam menyebabkannnya menolak perintah Allah dan menjadi makhluk yang terkutuk.[3]
- Menurut Dawan Rahardjo, Iblis adalah keinginan rendah yang menjauhkan manusia dari sujud kepada Allah guna memperoleh rahmat-Nya, sedangkan syaithan berarti merangsang keinginan rendah untuk menyelewengkan manusia dari jalan yang benar.[4]
- Menurut At-Thabari Iblis memiliki keturunan dan anak cucu, yang secara fisik merupakan ayah bagi jin, sebagaimana Adam telah menjadi ayah bagi umat manusia.[5]
Dalam hal ini pendapat yang paling kuat adalah iblis bukan termasuk kalangan malaikat. Penolakannya untuk mematuhi perintah Allah adalah bukti kuat bahwa dia bukan malaikat, karena malaikat dicipatakan oleh Allah selalu ta’at kepada-Nya tanpa maksiat sebagaimana tercantum dalam surat At-Tahrim (66) ayat 6 yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari apa neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”
(QS. At-Tahrim: 6)
[1] Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 1 (Beirut: Daarul Fikr, t.t.), hal. 88.
[2] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Yogyakarta: LPPI, 2000) hal. 95
[3] Peter J. Awn, Satan’s Tragedy and Redemption; Iblis in Sufi Psycologhy. Terj. Arif Rahmat (Yogyakarta: Bentang, 2000) hal. 49.
[4] Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an; Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci (Jakarta: Paramadina, 2002) hal. 199.
[5] Peter J. Awn, op. Cit., hal. 55
Komentar Terbaru