سُورَةُ الْفَاتِحَةِ
(اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ)
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيْمِ ١ٱلۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِيْنَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيْمِ ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّيْنِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِيْنُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيْمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوْبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّيْنَ ٧
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian Alam. Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Rabbi !
Perkenankan kami meminum samudra ilmu-Mu,
Menikmati sajian lezat kandungan ayat-ayat-Mu,
Meraup cahaya keberkahan-Mu
Menggapai hidayah dari-Mu
Rabbi !
Dengan pembuka kitab-Mu ini
Suburkanlah iman kami, tunjukilah jalan-Mu,
Bimbinglah kami menggapai cinta-Mu,
Sertakanlah kami bersama sahabat-sahabat setia-Mu
Dan jauhkanlah kami dari murka dan benci-Mu
Sebab tiada kebahagiaan bersama murka dan benci-Mu,
Tiada cahaya jika Kau lenyap dari kami.
Rabbi,
Diri kami kecil… hina dan rendah di hadapan-Mu
Tuntunlah kami tuk mengenal-Mu
Bimbinglah kami menyelami samudra ayat-ayat-Mu
Tuangkan anggur cinta pada-Mu dalam kegersangan jiwa kami, Amien
KEMULIAAN SURAT AL FATIHAH
Surat Al-Fatihah dianggap surat yang paling mulia di antara surat-surat dalam Al Qur’an. Oleh sebab itu mendalami makna-maknanya sangat penting bagi penghayatan keimanan seseorang.
Jika ditinjau dari segi bahasa “surat” dapat berarti dinding, pagar atau benteng yang mengelilingi sebuah kota. Oleh sebab itu setiap surat dalam Al Qur’an adalah sebuah kota ilmu yang harus didatangi untuk mengambil makna makna dan hikmah Nya sehingga ketika kita membaca sebuah surat dalam Al Qur’an seolah-olah kita sedang berkunjung kepadanya atau sedang menikmati hidangan di dalamnya.
Arti lain dari “surat” adalah kemuliaan, kehormatan, kedudukan tinggi atau bangunan yang tinggi dan indah, sebab setiap surat merupakan bangunan yang kokoh yang tidak dikenai kebatilan di depan maupun di belakangnya.[1]
Dengan membaca surat dalam Al Qur’an diharapkan hidayah akan masuk ke dalam dada dengan dipenuhi rahasia-rahasia ketuhanan yang suci (sofa Al Asrar), karena “surat” juga bermakna tanda atau petunjuk hingga setiap surat menunjukkan pada kekuasaan Allah, ilmu-Nya, kebijaksanaan-Nya dan kasih sayang-Nya.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda:
اِنَّ هٰذَا الْقُراٰنَ مَأْدُوْبَةُ اللّٰهِ فَتَعَلَّمُوْا مِنْ مَأْدُوْبَتِهِ مَاسْتَطَعْتُمْ اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ حَبْلُ اللّٰهِ وَهُوَ النُّوْرُ الْمُبِيْنُ وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ عِصْمَةُ مَنْ تَمَسَّكَ بِهِ وَنَجَاةُ مَنِ اتَّبَعَهُ لاَ يُعَوِّجُ فَيُقَوِّمُ وَلاَ يَزِيْغُ فَيُسْتَعْتَبُ وَلاَ تَنْقَضِيْ عَجَائِبُهُ وَلاَ يُخْلَقُ عَنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ (رَوَاهُ اَبُوْدَاوُدَ)
“Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah jamuan Tuhan.Maka pelajarilah dari jamuan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang jelas, obat yang bermanfaat, penjagaan bagi yang berpegang teguh kepadanya, dan keselamatan bagi orang yang mengikutinya. Tidak bengkok sehingga harus diluruskan, tidak menyimpang sehingga dikecam. Keajaibannya tidak berakhir, dan tidak memudar karena banyak membacanya.” (HR. Abu Dawud)
Salah satu surat yang termulia dan terindah diantara surat-surat Al Qur’an yang lain adalah surat Al Fatihah yang harus kita baca berulang-ulang ketika sholat, jika kita tidak memahami maknanya secara mendalam akan terjadi kegersangan jiwa, tapi jika dapat menangkap secara global keseluruhan misi Al Qur’anul Karim, karena ia adalah induk dari Al Kitab. Barangsiapa yang bisa memahaminya dengan baik, maka terbukalah baginya keindahan ayat-ayat Al Qur’an yang lain.
Menurut Syaikh Sa’id Hawa dalam bukunya Tafsir Al Asas: “Pada dasarnya Al Qur’an merupakan dakwah kepada aqidah, kemudian kepada ibadah, setelah itu kepada sistem kehidupan. Pengertian ini tersusun secara berurutan dalam surat Al Fatihah, sehingga dalam Islam, Aqidah bukan hanya sekedar konsep, tapi mempunyai buah, dampak dan tanggung jawab.[2]
NAMA-NAMA SURAT AL FATIHAH
Surat Al Fatihah memiliki banyak nama, setiap nama memberi isyarat tentang fungsi atau tujuan turunnya, nama tersebut adalah sebagai berikut:
- Al-Fatihah (pembuka yang sangat sempurna), sebagai isyarat bahwa ia adalah pembuka Al Qur’an dan juga pembuka yang amat sempurna bagi segala macam kebaikan.
- Asy-Syaafiyah (Penyembuh) dengan Al Qur’an banyak penyakit ruhani, maupun penyakit fisik yang berasal dari ruhani dapat disembuhkan.
- Ar-Ruqiyah (bacaan obat), dengan membacanya dapat menghilangkan penyakit-penyakit yang disebabkan gangguan syaithan.
- Al-Asas, karena padanya terdapat dasar-dasar pemahaman yang benar dari Al Qur’an dan Al Islam
- Al-Waqiyah (pemelihara), karena dapat memelihara pembacanya dari kesesatan dan penyelewengan.
- Al-Kanz (bekal), karena ia adalah bekal yang sangat berharga bagi masa depan.
- Ad-Du’a (doa) karena isinya berupa doa-doa hamba kepada Kholiqnya
- Asy-Syukr (syukur), karena membacanya merupakan refleksi syukur kepada Allah atas semua nikmat-Nya.
- Al-Hamd (pujian), dengan surat Al Fatihah kita memuji Allah.
- Ash-Sholat (permohonan), semua ayatnya menggambarkan kebesaran Allah, yang layak untuk diminta pertolongan
- Al Wafiyah (yang amat sempurna) karena surat ini merupakan surat yang amat sempurna dalam berbagai seginya.
- As-Sab’ul matsany (tujuh ayat yang berurut-urutan) karena suratnya terdiri dari 7 (tujuh) ayat yang berurutan,[3] sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda,
“Demi Tuhan Yang Jiwaku berada dalam
Genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan di dalam
Taurat, Injil maupun Zabur dan Al Qur’an suatu
surat seperti Assab’ul Matsany.”
(HR. Imam Ahmad)
Sebagian besar para mufassir berpendapat bahwa surat Al Fatihah adalah induk Al-Qur’an karena isinya yang lengkap mengandung keseluruhan makna global dari Al-Qur’an. Oleh sebab itu, memahaminya menjadi sangat penting karena surat ini dibaca secara berulang-ulang pada setiap raka’at dalam sholat. Memahaminya dengan kandungan yang dalam dan benar dapat menambah kekhusyukan dalam sholat dan penghayatan yang dalam terhadap pesan-pesan ketuhanan (Ar Risalah Al Ilahiyah). Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang berbunyi:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ يَا عَبْدَ اللّٰهِ بْنَ جَابِرٍ بِأَخْيَرِ سُورَةٍ فِي الْقُرْاٰنِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللّٰهِ قَالَ: اِقْرَأْ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَتَّى تَخْتِمَهَا (رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ)
“Maukah aku memberitahumu surat yang paling baik dalam Al Qur’an wahai Abdullah bin Jabir?” saya menjawab: “tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Bacalah ‘segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam’
sampai kamu menyelesaikannya…(HR.Imam Ahmad)
Kemudian Abu Sa’ad Al Ma’la menceritakan bahwa Rasulullah bersabda mengenai keagungan surat Al Fatihah dengan sabdanya:
لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ فِي الْقُرْاٰنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ قَالَ: فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْاٰنِ قَالَ: نَعَمْ (اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ) هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَ الْقُرْاٰنُ الْعَظِيْمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ
“Sungguh aku (Rasulullah) akan mengajarkan kepadamu surat Al-Qur’an yang paling agung sebelum kamu keluar dari masjid. “Ia bersabda sambil beliau memegang tangan saya. Ketika Beliau mau keluar masjid, saya katakan kepadanya, wahai Rasulullah SAW. Bukanlah engkau berjanji akan mengajarkan kepada saya surat Al-Qur’an yang paling agung. “Beliau menjawab: “ya tentu, (اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ):segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam). Ia adalah sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al-Qur’an yang agung yang diturunkan kepadaku.”
Kemudian hadits Ubay bin Ka’ab menceritakan tentang pertemuannya dengan Rasulullah sebagai berikut:
فَلَمَّا دَنَوْنَا مِنَ الْبَابِ قُلْتُ: أَيْ رَسُولَ اللّٰهِ مَا السُّوْرَةُ الَّتِي وَعَدْتَنِي؟ قَالَ مَا تَقْرَأْ فِي الصَّلاَةِ؟ قَالَ: فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ أُمَّ الْقُرْاٰنِ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أَنْزَلَ اللّٰهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيْلِ ولَا فِي الزَّبُوْرِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلَهَا إِنَّهَا السَّبْعُ الْمَثَانِي (رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ)
“Ketika kami mendekati pintu aku berkata: Wahai Rasulullah, surat apa yang engkau janjikan kepada kami?
Beliau menjawab apa yang kamu baca pada waktu sholat? Ia berkata: Lalu aku membaca Ummul Qur’an, dan beliau bersabda: demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah diturunkan dalam Taurat, Injil dan Zabur, serta tidak dalam Al-Furqon (Al-Qur’an) yang semisal itu. Sesungguhnya dia adalah sab’ul matsani.” (HR. Imam Ahmad)
SHOLAT DAN AL FATIHAH
Shalat dianggap tidak sah jika tidak membaca Al Fatihah, sebab di dalam surat ini terdapat dialog antara seorang hamba dengan Rabbnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, An Nasa’i dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خَدَاجٌ (ثَلاَثًا) غَيْرَ تَمَامٍ, فَقِيْلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُونُ خَلْفَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْبِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : قَالَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ “قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ: (اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ) قَالَ اللّٰهُ حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ : (الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ) قَالَ اللّٰهُ : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِيْ فَإِذَا قَالَ : (مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) قَالَ اللّٰهُ مَجَدَنِيْ عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ : (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ) قَالَ اللّٰهُ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي مَاسَأَلَ فَإِذَا قَالَ: (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) قَالَ اللّٰهُ : هٰذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالنَّسَائى)
“Siapa yang shalat tidak membaca Ummul Qur’an, maka shalatnya kurang (dikatakan tiga kali), shalatnya tidak sempurna. “dikatakan kepada Abu Hurairah: “Kami shalat di belakang imam, lalu dia mengatakan: bacalah Ummul Qur’an dalam hatimu.“saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah berfirman: Aku membagi shalat dua bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Buat hamba-Ku apa yang dia minta.“Bila dia membaca (segala puji bagi Allah.Rabb semesta Alam) Allah berfirman:“hamba-Ku memujiku.” Bila dia membaca (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) Allah berfirman “hamba-Ku menyanjung-Ku.” Bila dia membaca: (Raja hari pembalasan) Allah berfirman: ”Hamba-Ku mengagungkan-Ku. “Kali lain dia berfirman: “hamba-Ku percaya kepada-Ku.” Bila dia membaca: (Hanya kepada Engkaulah kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan) Allah berfirman : “ini antara Aku dengan hamba-Ku. Buat hamba-Ku apa yang dia minta. “Bila dia membaca: Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan mereka yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. “Allah berfirman: “ini untuk hamba-Ku, dan buat hamba-Ku apa yang dia minta.” (HR Muslim dan An-Nasa’i)
Diriwayatkan pula dari Ubadah bin Shamit dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ)الدَّارُ قُطْنِي بِسْنَادِ صَحِيْحٍ)
“Tidak sah shalat (seorang) yang tidak membaca Al Fatihah”
(HR. Ad Dar Quthniy)
Dari hadist-hadist di atas dapat dipahami bahwa membaca Al-Fatihah di dalam shalat adalah merupakan kewajiban, dengan demikian shalat dianggap tidak sah jika membacanya.
[1] Jalaluddin Rahmat, Tafsir Sufi Al-Fatihah (Bandung: Rosda, 1999) hal.40.
[2] Sa’id Hawa, Tafsir Al Asas jilid 1 (Jakarta: Rabbani Press, 2000) hal.38
[3] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al Karim; Tafsir atas Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1997), hal.7
Komentar Terbaru