TADABBUR SURAT AL BAQARAH AYAT 255-257

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ. لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ. اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ

Artinya:

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut79) dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang yang kufur, pelindung-pelindung mereka adalah tagut. Mereka (tagut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 255-257)

KEUTAMAAN AYAT KURSI

1.    Ayat yang paling mulia dalam Al Qur’an

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُمۡ فِيۡ صِفَةِ الۡمُهَاجِرِيۡنَ, فَسَأَلَهُ اِنۡسَانٌ اَيُّ اٰيَةٍ فِى الۡقُرۡاٰنِ اَعۡظَمُ قَالَ النَّبِيُّ (اللّٰهُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ هُوَ الۡحَيُّ الۡقَيُّومُ لَا تَأۡخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوۡمٌ) حَتَّى انۡقَضَتِ الۡاٰيَةُ (رَوَاهُ الۡبُخَارِي)

Bahwasanya Nabi SAW datang (menjelaskan) kepada mereka tentang sifat-sifat kaum muhajirin, lalu bertanyalah seseorang kepada beliau, surat apakah yang paling mulia di dalam Al Qur’an? Lalu Nabi bersabda (….اللّٰهُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ هُوَ) sampai akhir ayat (HR. Bukhori)

2.    Membacanya mendapat perlindungan dari Allah

قَالَ رَسُوۡلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ (مَنۡ قَرَأَ اٰيَةَ الۡكُرۡسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ الصَّلَاةِ الۡمَكۡتُوۡبَةِ كَانَ فِيۡ ذِمَّةِ اللّٰهِ اِلَى الصَّلَوٰةِ  اَلۡأُخۡرَى (رَوَاهُ الطَّبۡرَانِي)

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat kursi di setiap akhir sholat fardu maka ia berada dalam perlindungan Allah sampai sholat berikutnya. (HR AtTobroni)

3.    Apabila Dibaca Ketika Mendapat Kesusahan Akan Mendapat Pertolongan Allah.

قَالَ رَسُوۡلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: مَنۡ قَرَأَ اٰيَةَ الۡكُرۡسِيِّ وَخَوَاتِمِ سُوۡرَةِ الۡبَقَرَةِ عِنۡدَ الۡكَرۡبِ اَغَاثَهُ اللّٰهُ (رَوَاهُ ابۡنُ سِنَي)

Dari Abi Qotadah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat kursi dan ayat-ayat penutup surat Al Baqarah pada saat kesusahan maka Allah akan menolongnya.” (HR. Ibnu Sinai)

4.    Membacanya Dapat Membuat Hati Selalu Bersyukur

قَالَ رَسُوۡلُ اللّٰهِ صَلَّى اَللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ مَنۡ قَرَأَ اَيَةَ الۡكُرۡسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكۡتُوۡبَةٍ اَعۡطَاهُ اللّٰهُ قُلُوۡبَ الشَّاكِرِيۡنَ, وَاَعۡمَالَ الصِّدِّيۡقِيۡنَ وَثَوَابَ النَّبِيِّيۡنَ, وَبَسَطَ عَلَيۡهِ يَمِيۡنَهُ بِالرَّحۡمَةِ, وَلَمۡ يَمۡنَعۡهُ مِنۡ دُخُوۡلِ الۡجَنَّةِ إِلَّا اَنۡ يَمُوۡتَ فَيَدۡخُلَهَا[1]

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat kursi pada setiap selesai sholat fardu maka Allah memberinya hati orang yang selalu bersyukur, dan amal para shiddiqin, pahala para nabi dan Allah membentangkan atasnya  tangan kanan-Nya dengan rahmat dan ia  tidak tercegah masuk surga sampai ia meninggal dunia lalu ia memasukinya.

5.    Membacanya Dapat Menjaga Keturunan dan Lingkungan Sekitar

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوۡلَ اللّٰهِ عَلِّمۡنِيۡ شَيۡئًا يَنۡفَعُنِيۡ اللّٰهُ بِهِ قَالَ اِقۡرَأۡ اٰيَةَ الۡكُرۡسِيِّ فَإِنَّهُ يَحۡفَظُكَ وَذُرِّيَّتَكَ وَيَحۡفَظُ دَارَكَ حَتَّى الدَّوَيۡرَاتِ حَوۡلَ دَارِكَ[2]

Seseorang berkata: “Wahai Rasulullah SAW ajarkanlah padaku sesuatu yang Allah memberi manfaat kepadaku dengannya, Rasulullah menjawab bacalah ayat kursi maka sesungguhnya ia menjagamu, menjaga keturunanmu dan menjaga rumahmu sampai rumah-rumah disekitar rumahmu.”

MAKNA AYAT

اللّٰهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الۡحَيُّ الۡقَيُّوۡمُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَّلَا نَوۡمٞۚ

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia,

Yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya,

tidak menimpanya rasa kantuk dan tidak pula tidur

لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ  ini adalah aqidah pokok tempat bertumpunya tata cara pandang Islam bagi semua kehidupan. Dari Manhaj ini timbullah arahan menuju kepada Allah Yang Maha Esa dalam berubudiyah.

Makna Kalimat Tauhid

Dalam Buku Kuliah Aqidah karangan Prof. Yunahar Ilyas dikatakan bahwa diantara makna laa Ilaaha illallah[3] adalah

  1. لَا مَعۡبُوۡدَ اِلَّا اللّٰهُ  (Tidak ada yang disembah kecuali Allah)
  2. لَا خَالِقَ اِلَّا اللّٰهُ  (Tidak ada yang menciptakan kecuali Allah)
  3. لَا حَاكِمَ اِلَّا اللّٰهُ  (Tidak ada Hakim yang adil kecuali Allah)
  4. لَا مُدَبِّرَ  اِلَّا اللّٰهُ  (Tidak ada yang mengatur kecuali Allah)
  5. لَا رَازِقَ اِلَّا اللّٰهُ (Tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah)
  6. لَا مَحۡبُوۡبَ اِلَّا اللّٰهُ(Tidak ada yang dicintai kecuali Allah)
  7. لَا مُطَاعَ اِلَّا اللّٰهُ(Tidak ada yang ditaati secara mutlak kecuali Allah)
  8. لَا مَالِكَ اِلَّا اللّٰهُ(Tidak ada raja yang sebenarnya selain Allah)
  9. لَا وَلِيَّ اِلَّا اللّٰهُ (Tidak ada pelindung selain Allah)
  10. لَا مُعۡتَصَمُ اِلَّا اللّٰهُ (Tidak ada yang dipegangi kecuali Allah)
  11. لَا مُعۡظَمَ اِلَّا اللّٰهُ (Tidak ada yang diagungkan kecuali Allah)
  12. لَا مُطۡمَئِنَّ  اِلَّا اللّٰهُ(Tidak ada yang menenteramkan qolbu selain Allah)  
  13. لَا غَايَةَ اِلَّا اللّٰهُ(Tidak ada yang menjadi tujuan kecuali Allah)
  14. لَا حَافِظَ اِلَّا اللّٰهُ (Tidak ada yang menjaga kecuali Allah)
  15. لَا مُسۡتَجَارَ بِهِ اِلَّا اللّٰهُ(Tidak ada tempat berlindung kecuali Allah)
  16. لَا مُسَيَّدَ اِلَّا اللّٰهُ (Tidak ada yang dipertuan agung kecuali Allah)

Kemudian makna kata الۡحَيُّ maksudnya adalah Dialah yang senantiasa ada, Dzat-Nya selalu hidup secara abadi selama-lamanya, tidak tertimpa rasa kantuk, apalagi tidur, tidak ada yang memiliki sifat ini selain Dia.

Kata  الۡحَيُّ  artinya adalah hidup, yang menjadi sifat Allah Yang Maha Esa ini adalah kehidupan yang tidak datang dari sumber lain, seperti hidupnya makhluk yang merupakan pemberian dan karunia dari Al Khaliq.

Kehidupan Allah itu adalah kehidupan yang azali dan abadi dan tidak berawal dan tidak berakhir pada suatu kesudahan. Kehidupan Allah adalah kehidupan yang lepas dari ikatan waktu dan senantiasa menyertai kehidupan makhluk yang terbatas.

Adapun makna sifat الۡقَيُّوۡمُ  adalah sebagai berikut:

  • Bahwa Allah selalu mengurusi segala yang maujud maka tidak ada suatu urusanpun kecuali bersandar kepada pengaturannya.[4]

(2) Menurut Prof. Hamka kata الۡقَيُّوۡمُ berarti Yang Berdiri Sendiri tidak bersandar atau bergantung kepada yang lain, sebab yang lain seluruhnya adalah makhluk-Nya.

 (3) Menurut Mujahid berkata الۡقَيُّوۡمُ ialah yang berdiri sendiri sedangkan yang lain adalah bergantung kepadanya.[5]

Selain Allah tidak ada yang memiliki kehidupan yang sempurna. Hanya Dialah Dzat yang Maha Hidup terus menerus mengurusi makhluk-Nya, doa yang berkaitan dengan ini adalah

اَسۡتَغۡفِرُ اللّٰهَ الۡعَظِيۡمَ لَاإِلٰهَ إِلَّا هُوَ الۡحَيُّ الۡقَيُّوۡمُ وَأَتُوۡبُ إِلَيۡهِ

”Aku minta ampun kepada Allah yang Maha Agung, Dia tiada Ilah yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan aku bertaubat kepadanya[6]

Dan (4) makna الۡقَيُّوۡمُ  adalah Dialah Dzat yang berdiri sendiri yang senantiasa kekal dengan kesempurnaan dan sifatnya dan tidak berubah atau terpengaruh oleh sesuatu apapun. Dia selalu mengurusi urusan makhluk-Nya mulai dari mencipta, mengatur rezeki serta menentukan ajal dan amal mereka. Dia mengetahui tempat berdiamnya makhluk dan tempat disimpannya mereka di dalam rahim. Allahlah yang mengurus segala yang ada, sehingga mereka tetap tegak, tidak terbayangkan ada sesuatu yang tetap eksis keberadaannya melainkan karena sifatnya yang senantiasa mengurusi makhluk.[7]

لَّهُۥ مَا فِي السَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي الۡأَرۡضِۗ

Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan apa-apa yang di bumi,

Rectangle: Rounded Corners: “maka manusia pada hakekatnya tidak memiliki kepemilikan apapun, mereka hanya memiliki tugas pengelolaan dari sang pemilik asli yaitu Allah  Yang Maha Esa,”Maksud ayat ini adalah kepemilikan yang lengkap dan  mutlak tidak terikat pada suatu ikatan dan takkan pernah hilang. Allah yang Maha Esa adalah Esa hidupnya, Esa kepengurusannya, Esa kepemili-kannya. Pemahaman ini menafikan semua bentuk persekutuan dalam segala hal, maka manusia pada hakekatnya tidak memiliki kepemilikan apapun, mereka hanya memiliki tugas pengelolaan dari sang pemilik asli yaitu Allah  Yang Maha Esa, yang memiliki segala sesuatu. Oleh karena itu di dalam menjalankan ke pengelolaan ini mereka manusia wajib tunduk pada syarat-syarat yang ditetapkan oleh Sang Pemilik yang menjadikan mereka khalifah dalam alam semesta.[8]

مَنۡ ذَا الَّذِيۡ يَشۡفَعُ عِنۡدَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ

Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi –Nya (Allah)

kecuali dengan izin-Nya.

Di akhirat tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas izin Allah. Hanya 3 (tiga) golongan yang dapat memberi syafa’at atas izin Allah, sesuai hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:

قَالَ رَسُوۡلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: يَشۡفَعُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ ثَلَاثَةٌ: اَلۡأَنۡبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ وَالۡعُلَمَاءُ. (رَوَاهُ ابۡنُ مَاجَه)

Rasulullah SAW bersabda: “Akan memberi syafaat pada hari kiamat adalah 3 (tiga) kelompok: Para nabi, para syuhada’, dan para ulama’. (HR. Ibnu Majah)

يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيۡهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيۡطُوۡنَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ

Dia mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatupun dari ilmu Allah kecuali apa- apa yang Allah kehendaki

Tidak ada yang akan mengetahui ilmu Allah kecuali orang-orang yang Allah kehendaki, sebagaimana malaikat berkata dalam surat Al Baqarah ayat 32 yaitu:

قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ الۡعَلِيمُ الۡحَكِيمُ ٣٢

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al Baqarah; 32)

Allah mengetahui apa-apa yang ada di belakang dan di depan mereka dan mereka tidak mengetahui sedikitpun dari ilmu Allah kecuali yang dibagikan kepadanya. Kesadaran akan hal ini dapat menimbulkan kegoncangan di dalam jiwa-jiwa yang berdiri dengan terbuka setiap saat di depan Penciptanya yang mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakangnya. Mengetahui apa yang disembunyikan dan yang dinyatakan oleh ilmu-Nya.

Banyak sekali rahasia yang dijauhkan dari manusia, dijauhkan dari mereka segala sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan tugas kekhalifahannya di muka bumi, sedangkan bumi itu sendiri hanya sejumput kecil saja yang berenang di ruangan yang amat luas sehingga ia hanya bagaikan sebutir debu.[9]

وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ السَّمَٰوَٰتِ وَالۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔوۡدُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ الۡعَلِيُّ الۡعَظِيۡمُ.

Luas singgasana-Nya meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak berat memelihara keduanya dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Rectangle: Rounded Corners: Dialah yang mengatur semua jiwa beserta semua apa yang diperbuatn-Nya, Dialah yang mengawasi segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang terhalang dari-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang gaib bagi-nya. Segala sesuatu seluruhnya hina di hadapan-Nya dalam keadaan tunduk dan patuh.

Mengenai kata كُرۡسِيُّهُ ada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berbunyi: “Seandainya langit dan bumi yang masing-masing terdiri atas tujuh lapis dihamparkan kemudian satu sama lainnya disambungkan maka semuanya itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan luasnya kursi melainkan hanya seperti suatu halaqah atau kerumunan manusia yang berada di tengah-tengah padang pasir.[10]

Ayatوَلَا يَـُٔوۡدُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ  maksudnya tidak memberatkan dan tidak menggang-gunya sama sekali, memelihara langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya, bahkan hal tersebut mudah dan sangat ringan bagi-Nya, Dialah yang mengatur semua jiwa beserta semua apa yang diperbuat-Nya, Dialah yang mengawasi segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang terhalang dari-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang gaib bagi-nya. Segala sesuatu seluruhnya hina di hadapan-Nya dalam keadaan tunduk dan patuh.

Makna الۡعَلِيُّ  maksudnya adalah:” Dialah zat yang Maha Tinggi mengungguli semua makhluk-Nya. Nama الۡعَلِيُّ  dengan sendirinya menunjukkan sifat Allah yang Tinggi dan Atas. الۡعَلِيُّ  berada tinggi di atas arsy-Nya dengan hakikat dan cara yang hanya diketahui oleh-Nya, kita tidak mengetahuinya. Nama الۡعَلِيُّ  ini selalu berbarengan dengan nama الۡعَظِيۡمُ. Dia adalah raja yang tidak akan pernah lengser dari arsy-Nya, tidak berdasar suka atau taatnya manusia, sebab Dzatnya tidak membutuhkan ketaatan makhluk. Dia berkuasa di atas Arsy-Nya tidak membutuhkan siapapun dalam pengurusan kerajaan-Nya.

Kata الۡعَظِيۡمُ maksudnya adalah Dialah Dzat yang kekuasaan-Nya melebihi batasan akal manusia untuk mencernanya, disebabkan kebesaran dan keagungan-Nya. Hakikat kekuasaannya terhadap makhluk benar-benar nyata. Dzat dan sifat-Nya Maha Agung, Maha Luas dan Maha Besar. Keagungan Dzat Allah ditunjukkan oleh singgasana-Nya yang meliputi langit dan bumi.

Makna الۡعَلِيُّ الۡعَظِيۡمُ adalah Dia Esa dengan ketinggian dan kebesarannya tidak seorangpun hamba yang berusaha untuk mencapai posisi ini melainkan Allah akan mengembalikannya kepada kerendahan dan kehinaan serta kepada azab dan kehinaan di akhirat. Manusia berusaha meraih ketinggian dan kebesaran serta menyombongkan diri, akan tetapi bagaimanapun juga ia tidak akan dapat melampaui kedudukannya sebagai hamba Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.[11]

لَآ إِكۡرَاهَ فِي الدِّيۡنِۖ قَدۡ تَّبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَيِّۚ

Tidak ada paksaan dalam agama (Islam);

sungguh telah jelas jalan yang benar  dari jalan yang sesat.

Menurut Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an,  Allah SWT benar-benar menghargai pilihan manusia, apakah mau beriman ataukah mau kafir karena mereka akan memikul tanggung jawab atas pilihannya sendiri.[12]

Allah SWT memberi kebebasan tersebut sebenarnya karena jalan yang benar dan jalan yang sesat itu telah nampak jelas bagi orang-orang yang menggunakan akal fikiran dan kejernihan hati yang menjadi bekal utama manusia sebagai seorang khalifah di muka bumi.

فَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِالطّٰغُوۡتِ وَيُؤۡمِنۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقىٰ لَاانۡفِصَامَ لَهَاۗ

Maka barang siapa yang kafir kepada syaithan dan beriman kepada Allah,

Maka sungguh ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus

Rectangle: Rounded Corners: “Pengingkaran itu harus ditujukan kepada sesuatu yang harus diingkari yaitu thogut, sedangkan iman itu harus ditujukan kepada sesuatu yang harus diimani yaitu Allah SWT”.Dalam ayat diatas dijelaskann pula rahasia untuk selalu berada di jalan Islam yaitu, harus ingkar kepada thogut setelah itu baru beriman kepada Allah. Yang dimaksud dengan thogut adalah “siapa saja yg tidak mendukung program keimanan Islam,” setelah ingkar kepada thoghut lalu kemudian mereka beriman, maka mereka itulah yang dapat berpegang teguh pada tali Islam yang kuat yang tidak terputus-putus.

Menurut Sayyid Qutub: “Pengingkaran itu harus ditujukan kepada sesuatu yang harus diingkari yaitu thoghut, sedangkan iman itu harus ditujukan kepada sesuatu yang harus diimani yaitu Allah SWT.”

Beberapa Pendapat Mengenai Thoghut

1.    Menurut Mujahid

عَنۡ مُجَاهِدٍ قَالَ: (الطَّاغُوۡتُ) الشَّيۡطَانُ فِيۡ صُوۡرَةِ الۡإِنۡسَانِ يَتَحَاكَمُوۡنَ اِلَيۡهِ وَهُوَ صَاحِبُ اَمۡرِهِمۡ

Dari Mujahid ia berkata: kata at thoghut adalah syetan dalam bentuk manusia, (mereka para manusia) berhukum kepadanya dan ia adalah penguasa mereka.

2.    Menurut Malik Bin Anas

عَنۡ مَالِكٍ بِنۡ اَنَسٍ قَالَ (الطَّاغُوۡتُ) مَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ

Dari Malik bin Anas ia berkata: At Thoghut adalah apa-apa yang disembah selain Allah.

3.    Menurut Abul A’la Al Maududi,

Thoghut adalah tiap pemerintah atau penguasa, tiap pimpinan dan tokoh yang melanggar ketentuan-ketentuan dan hukum Allah SWT, tidak mengindahkan norma-norma alamiah dan insaniah.[13]

4.    Menurut Kamus Lisanul Arab

adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah dapat berupa penguasa yang sewenang-wenang.[14]

5.    Menurut Sayyid Qutub

“Segala sesuatu yang melanggar kebenaran, tidak berpedoman pada aqidah Allah dan tidak berpedoman pada syari’ah Allah SWT. Termasuk dalam kategori thoghut adalah setiap manhaj, tatanan atau sistem yang tidak berpijak pada peraturan Allah SWT dan juga setiap pandangan, perundang – undangan, peraturan, kesopanan, atau tradisi yang tidak berpijak pada peraturan Allah.”[15]

Oleh sebab itu menurutnya siapa yang ingkar kepada semua itu maka ia akan selamat dalam iman, karena seolah-olah ia telah berpegang teguh dengan tali yang amat kuat yaitu Islam.

وَاللّٰهُ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Allah mendengar permohonan hamba-hambanya yang meminta petunjuk, Dia juga mengetahui hamba-hamba-Nya yang berusaha untuk mencari kebenaran.[16]

اللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡاْ يُخۡرِجُهُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ إِلَى النُّوۡرِۖ

Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman,

Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya

Rectangle: Rounded Corners: “Dialah Dzat yang melindungi, menguasai serta mengatur urusan hamba-Nya, Dia senantiasa eksis dalam mengatur kerajaan-Nya. Dialah yang menahan benda-benda langit sehingga tidak jatuh ke bumi kecuali yang Ia izinkan”. Menurut pendapat DR. Mahmud Abdurraziq Ar Ridhwani kata اَلۡوَلِيُّ maksudnya adalah “Dialah Dzat yang melindungi, menguasai serta mengatur urusan hamba-Nya, Dia senantiasa eksis dalam mengatur kerajaan-Nya. Dialah yang menahan benda-benda langit sehingga tidak jatuh ke bumi kecuali yang Ia izinkan.”[17]

Perlindungan Allah terhadap hambanya terbagi dua yaitu:

  1. Wilayah umum yaitu perlindungan, pengaturan dan penjaminan Allah terhadap rezeki semua makhluk. Allah mengatur keadaan mereka dan Dia berkuasa menjadikan mereka mampu beramal dan bergerak. Hal itu Allah mudahkan dengan cara menjalankan hukum sebab akibat.
  2. Wilayah khusus maksudnya perlakuan Allah terhadap orang-orang yang beriman berupa perlindungan, pengaturan, penjagaan, kecintaan dan kemenangan, baik pengaturan yang bersifat kauniyah maupun syariah. Adapun syarat pengaturan Allah yang bersifat syar’i adalah iman, ikhlas dan mutaba’ah mengikuti contoh Nabi dalam beribadah.

Doa yang berkaitan dengan lafadz ini adalah

اللّٰهُمَّ يَا فَاطِرَ السَّمٰوَاتِ وَالۡأَرۡضِ أَنۡتَ وَلِيِّي فِي الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسۡلِمًا وَأَلۡحِقۡنِي بِالصَّالِحِينَ[18]

Ya Allah, Pencipta langit dan bumi engkau pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan pertemukanlah aku di akhirat bersama orang-orang yang sholeh

Iman adalah cahaya yang pertama kali menyinari dan menerangi eksistensi seorang mukmin, iman itu memancar dari dalam hatinya dan menyinari ruhnya sehingga menjadi terang benderang, dan ruhnya memancarkan cahaya kesekelilingnya dengan terang benderang. Cahaya itu  menyingkap hakikat-hakikat segala sesuatu, hakikat-hakikat nilai dan hakikat-hakikat semua pandangan hidup, sehingga hati orang yang beriman dapat melihat segalanya dengan terang benderang tanpa kekaburan, sehingga imannya menjadi mantap tidak  tergoyahkan. Kemudian ia akan mengambil sesuatu yang seharusnya ia ambil dan ia akan meninggalkan sesuatu yang seharusnya ia tinggalkan.

وَالَّذِيۡنَ كَفَرُوٓا أَوۡلِيَآؤُهُمُ الطّٰغُوۡتُ يُخۡرِجُوۡنَهُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ إِلَى الظُّلُمٰتِۗ

Dan orang-orang yang kafir, pemimpin-pemimpin mereka adalah thogut Mereka thoghut  itu  mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan

Rectangle: Rounded Corners: Sesungguhnya kebenaran itu hanya satu tidak berbilang sedangkan kesesatan itu bermacam-macam dan beraneka ragam, maka apalagi yang ada sesudah kebenaran kalau bukan kesesatanApabila mereka tidak terbimbing dengan cahaya iman, maka mereka akan kekal di dalam neraka. Sesungguhnya kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang sedangkan kesesatan itu bermacam-macam dan beraneka ragam, maka apalagi yang ada sesudah kebenaran kalau bukan kesesatan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 32 yang berbunyi:

فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ الۡحَقِّ إِلَّا الضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ

Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (Qs. Yunus: 32)

Sedangkan kesesatan, kekafiran adalah kegelapan-kegelapan yang bermacam-macam dan beraneka ragam, kegelapan hawa nafsu dan syahwat, kegelapan kebingungan dan keterombang-ambingan, kegelapan kesombongan dan melampaui batas, kegelapan kelemahan dan kehinaan, kegelapan riya dan nifaq, kegelapan kerakusan dan kegila-gilaan, juga kegelapan keragu-raguan dan ketidakstabilan, kegelapan-kegelapan yang beraneka ragam dan tidak dapat dibatasi, yang semuanya terjadi ketika manusia sudah menyimpang dari jalan Allah SWT dan menerima jalan hidup dari selain Allah SWT serta berpedoman kepada selain Manhaj Allah SWT.

أُولٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ النَّارِۖ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ.

Mereka itulah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Mereka itulah orang kafir yang telah tersesat dalam kegelapan-kegelapan yang beragam dan banyak jumlahnya dan karena mereka juga telah menjadikan syaithan-syaithan atau thoghutthoghut sebagai pemimpin dan pembimbingnya maka sangat layaklah bagi mereka untuk menetap di dalam neraka selama- lamanya, sebagai balasan amal perbuatan mereka di dunia ini.


[1]Al Imam As Suyuthi, Op.cit., jilid 1 hal 573

[2] Ibid.,

[3] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah (Jogjakarta: LPPI, 2000) hal 30-31

[4] Sayyid Qutb, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an: Di Bawah Naungan Al Qur’an, Terj. As’ad Yasin, Abdul Aziz Salim Basyarohil & Muchotob Hamzah Jilid 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 2000) Hal 340

[5] Hamka, Tafsir Al Azhar, Jilid 1 (Depok: Gema Insani, 2021) hal 510

[6] Mahmud Abdul Roziq Ar Ridwani, Asmaul Husna, Terj. Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri (Jakarta; Pustaka Ibnu Katsir; 2005) hal 191

[7] Ibid., hal 192

[8] Sayyid Qutb, op.cit., jilid 1 hal 342

[9] Sayyid Qutb, op.cit., Jilid 1, hal 342

[10] Muhammad Ali Ash Shobuni, Mukhtashor Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1 (Beirut; Maktabah Jeddah),  hal 227

[11] Sayyid Qutb, Op.cit., jilid 1 hal 342

[12] Ibid., hal 343

[13] Abul A’la Al Maududi, bagaimana memahami Al Qur’an; Keempat Istilah dalam Al Qur’an; Al Ilah, Ar Rabb, Al Ibadah, Ad Din, (Surabaya: Al Kautsar; t.t)

[14] Allamah Ibn mundzir, Lisanul Arab juz 7, (Beirut: Daar Ihya’it turots Al Arabiy, 1998) hal 170

[15] Sayyid Qutb, op.cit., jilid 1 hal 345

[16] Ibid.,

[17] Mahmud Abdurraziq Ar Ridhwan, op.cit, hal 250

[18] Ibid., hal 252