TA’AWWUDZ

اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

 “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk”

Sebelum kita mulai mempelajari ayat-ayat lain dari surat Al-Fatihah, alangkah baiknya jika kita mulai dengan mengupas makna ta’awwudz (اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ) yang diperintahkan bagi kita untuk membacanya setiap akan mulai membaca Al-Qur’an, karena kalimat ini walaupun sederhana namun memiliki pemahaman yang mendalam dan pengaruh yang besar untuk mengantarkan ummat Islam kepada kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

A.    Makna Mufrodat (Makna Bahasa)

اَعُوْذُ بِاللّٰهِ

“Aku berlindung kepada Allah”

Kata (اَعُوْذُ) diambil dari lafadz (اَلْعَوْذُ) yang memiliki 2 makna yaitu:

    1. Memohon ketentraman dan bantuan pada rahmat Allah Ta’ala dan penjagaan-Nya.
    2. Menggantungkan diri pada karunia Allah dan rahmat-Nya.

Dari makna bahasa di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kata-kata اَعُوْذُ terkandung makna permohonan kepada Allah agar dengan rahmat dan penjagaan-Nya kita dapat terhindar dari gangguan syaitan dalam kondisi apapun. Ketika kita mengucapkan ta’awwudz berarti kita menggantungkan diri sepenuhnya kepada rahmat dan karunia Allah agar terhindar dari gangguan syaitan yang sangat mengerikan dan dapat menjerumuskan manusia pada kesesatan dan penderitaan yang panjang.

مِنَ الشَّيْطٰنِ

“Dari syaithan”

Kata (الشَّيْطٰنِ) diambil dari kata (شَطَنَ) yang berarti “jauh”, dengan demikian jika dilihat dari segi bahasa (الشَّيْطٰنِ) berarti “karena kefasikannya ia sangat jauh dari setiap kebaikan.” Oleh sebab itu barangsiapa yang menjadi teman syaithan maka pasti ia menjadi sangat jauh dari kebaikan dan sangat dekat dengan perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat.

الرَّجِيْمِ

“Yang terkutuk”

Lafadz الرَّجِيْمِ dalam kalimat اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ adalah “isim fail” (pelaku perbuatan) yang bermakna “isim maf’ul” (objek perbuatan) mengandung arti dia terlempar dan terusir dari kebaikan.

Dari makna secara bahasa ini dapat kita pahami bahwa syaithan adalah makhluk yang sangat jauh dari setiap kebaikan dan selalu mengganggu manusia walaupun manusia tersebut sedang akan beribadah kepada Allah dengan membaca Al-Qur’an. Hingga mengucapkan ta’awwudz ketika hendak membaca Al-Qur’an adalah diperintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya surat An-Nahl (16) ayat 98 yang berbunyi:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ (النحل: 98)

“Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka berlindunglah kepada Allah dari syaithan yang terkutuk” (QS. An-Nahl : 98)

B.    Perintah Ta’awwudz

Dalam Al-Qur’an banyak ditemui ayat-ayat yang memerintahkan untuk membaca ta’awwudz, diantaranya surat Al-A’raf (7) ayat 200 yang berbunyi sebagai berikut:

وَإِمَّا يَنۡزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaithan maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ.

 “Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaithan” (QS. Al-Mu’minun : 97)

وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ.

 “Dan aku berlindung pula kepada Engkau dari kedatangan mereka kepadaku” (QS. Al-Mu’minun: 98)

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ  

Khusus mengenai surat An-Nahl (16) ayat 98, para ahli qiro’ah berbeda pendapat, karena melihat lahiriah dan perintah ta’awwudz tersebut menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) dalam lafadz (فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ) (apabila engkau telah membaca Al-Qur’an), diantara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Mazhab pertama yang dianut oleh sebagian ahli qiro’ah berpendapat bahwa membaca ta’awwudz itu setelah membaca Qur’an, karena mereka berpegang pada lahiriah ayat yang berbunyi (فَإِذَا قَرَأۡتَ) (apabila telah selesai membaca)
    2. Mazhab kedua yang merupakan pendapat jumhur ulama mengatakan bahwa isti’adzah itu sebelum tilawah untuk menghindari bisikan (Waswasah) dan campur tangan syaithan ketika membaca Al-Qur’an. Dengan demikian (قَرَأۡتَ) adalah fi’il madhi yang bermakna fi’il mudhori’ atau kata kerja lampau yang bermakna kata kerja sedang atau akan berlaku.

Manfaat Ta’awwudz

Jalaludin Rahmat dalam bukunya “Tafsir Sufi Al-Fatihah” berusaha mengemukakan beberapa alasan perintah ta’awwudz ketika hendak membaca Al-Qur’an, diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Al-Qur’an adalah obat untuk penyakit hati

Ta’awwudz berfungsi untuk menghilangkan apa yang dimasukkan syaithan kedalam hati berupa keraguan, dorongan nafsu dan kemauan-kemauan buruk, sebagaimana hadits Rasul yang berbunyi sebagai berikut

إِنَّ الشَّيطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ اٰدَمَ مَجْرَى الدَّمِّ وَإِنِّى خَشِيْتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوْبِكُمْ شَيئًا أَوْ قَالَ شَرًّا (رَوَاهُ الشَّيْخَانِ)

“Sesungguhnya syaithan berjalan pada anak Adam di urat-urat darahnya dan aku takut dia akan memasukkan di dalam hatimu sesuatu atau dia (Rasul) bersabda keburukan.” (HR. Bukhori Muslim)

قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ وَاضِعُ بَطْنِهِ عَلَى قَلْبِ ابْنِ ادَمَ فَإِذَا ذَكَرَ اللّٰهَ خَنَّسَ وَإِنْ نَسِيَ اِلْتَقَمَ قَلْبَهُ فَلِذَالِكَ الْوَسْوَاسُ الْخَنَّاسُ (رَوَاهُ الْحَافِظ الْمَوْصُلِى)

“Bersabda Rasulullah SAW. “Sesungguhnya syaithan meletakkan perutnya pada hati anak Adam, apabila ia ingat kepada Allah, maka ia (syaithan) bersembunyi dan jika ia lupa, maka syaithan melahap hatinya, itulah bisikan-bisikan yang datang dan pergi.” (HR. Al-Hafidz Al Maushuliy)

2. Al-Qur’an adalah sumber petunjuk, ilmu dan kebaikan di dalam hati. Al-Qur’an adalah ibarat air yang menumbuhkan tetanaman, syaithan adalah api yang membakar tanaman. Setiap kali syaithan melihat tumbuhnya kebaikan dalam hati maka ia berusaha merusaknya.

3. Para malaikat suka mendekati pembaca Al-Qur’an dan mendengarkan bacaannya. Syaithan adalah lawannya, Allah memerintahkan pembaca Al-Qur’an untuk menjauhkan musuh-musuh-Nya dan menghadirkan para malaikat. Sebagaimana tertera dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud dan At Tirmidzi yang berbunyi:

عَنۡ اَبيِ هُرَيۡرَةَ رَضَيِ اللّٰهُ عَنۡهُ أَنَّ رَسُوۡلَ اللّٰهِ صَلَّي اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فيِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللّٰهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللّٰهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ فِيْمَا بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَآئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللّٰهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ. (رواه مسلم وابو داوود وَالتِّرْمِذِي)

“Dari Abi Hurairah dari Nabi SAW… dan tidaklah sekelompok kaum berkumpul dalam sebuah rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mereka saling mempelajarinya (Kitab) kecuali turun pada mereka ketenangan, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi  mereka dan Allah menyebut mereka pada orang-orang disisi-Nya (Malaikat) dan barangsiapa yang lambat amalnya seolah-olah tidak cepat keturunannya (buahnya) (HR. Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzi)

4. Syaithan berusaha agar pembaca Al-Qur’an tidak mentadabburinya, memahaminya dan mengetahui maksud Al-Qur’an, syaithan berusaha keras menghalangi hatinya dari tujuan Al-Qur’an.

5. Seorang qori’ sedang bermunajat kepada Allah dengan firman-Nya dan Allah senang mendengar suaranya, itulah sebabnya Allah memerintahkan untuk beristi’adzah ketika hendak berhadapan dengan Allah.

6. Karena syaithanlah kadang-kadang pembaca Al-Qur’an keliru, atau bacaannya rancu, lidahnya terpeleset atau otak dan hatinya kacau sehingga kadang-kadang memutar balikkan pemahaman Al-Qur’an.

7. Ketika manusia sedang memperhatikan kebaikan atau sedang melakukannya, syaithan sangat ingin memutarkan perhatian itu, semakin bermanfaat dan semakin dicintai perbuatan hamba tersebut, semakin besar gangguan syaithan kepadanya.

8. Membaca isti’adzah sebelum qira’at adalah pemberitahuan bahwa yang akan dibacanya adalah Al-Qur’an, karea isti’adzah tidak pernah dibaca sebelum membaca apapun selain Al-Qur’an, jika pendengan membaca isti’adzah ia bersiap-siap untuk mendengarkan firman Allah SWT.  (To be continued)